Layanan Budi Daya Ikan Jogja Terbaik I Benih Ikan dan Konsumsi
  • facebook
  • Instagram
  • twitter

Layanan Budi Daya Ikan Terbaik Yogyakarta

Alhamdulillah, semakin banyak yang percaya dengan Pelayanan budi daya ikan Antok Farm.

Bandingkan ketepatan, kecepatan, harga dan fitur layanan Antok Farm dengan jasa Jual Benih lainnya. Tim kami telah membandingkan dengan yang lain dan Budi Daya Benih Antok Farm adalah yang termantap dalam kualitas dan Harga yang murah. Paling direkomendasikan untuk Pemberdayaan, dinikmati, diedarkan, dibagikan dan disebarluaskan.

Antok Farm menyediakan benih ikan antara lain :

1. Telur/Larva Ikan Gurami

2. Benih Ikan Gurami

3. Benih Ikan Lele (Masamo, Sangkuriang, Paiton)

4. Benih Ikan Nila (Gesit, Monosex)

5. Benih Ikan Patin

6. Benih Ikan Bawal

7. Benih Ikan Mas

8. Benih Ikan Graskap/Grass Carp

9. Benih Ikan Tawes

10. Benih Belut

11. Dan Benih Ikan Lainnya


Untuk harga Benih Ikan silahkan melihat gambar brosur harga di bawah ini.

Benih Ikan Gurami

Tetap Berdaya di Masa Tua, dengan Budidaya Ikan Gurami

By antOK - September 17, 2016


Ketika seseorang memasuki masa pensiun, bahkan masa menjelang pensiun, momok yang muncul dirasakan kebanyakan orang adalah suatu masa yang menjenuhkan. Apalagi yang sudah terbiasa sibuk, dilayani, dan memegang jabatan bisa-bia mengalami post power syndrome. Namun bila masa pensiun kita siapkan jauh sebelum masa pensiun hal tersebut mungkin tidak terjadi. Persiapan mental dengan ikhlas, dan mempersiapkan kegiatan apa yang akan dilakukan setelah pensiun juga penting. Salah satunya mengisi kegiatan di masa tua dengan menjalankan hobi yang menghasilkan. Salah satunya adalah membudidayakan ikan gurami. Budidaya ikan bisa menjadi pilihan mengisi waktu tua agar tetap produktif dan berdaya. Berikut saya ceritakan kisah Bapak Arif Setiadi (52 tahun) yang menekuni budidaya ikan gurami.

Sebagian besar mungkin berpikir bahwa usia tua adalah masa untuk pensiun, masa untuk istirahat, dan mengundurkan diri dari kesibukan duniawi. Namun tidak untuk Arif Setiadi (52 tahun). Di usianya yang bisa dikatakan tak lagi muda, pria yang pernah berkelana di negeri Kanguru, Australia, ini memilih mengisi waktunya dengan melakukan budidaya ikan koi dan gurame.
Di kediamannya, Karang Talun, Kalidawir, Tulungagung, Arif memiliki 4 buah kolam. Masing-masing ber ukuran 10 x 20 m, 12 x 22 m, dan 12 x 24 m. Kolam paling besar diisi bibit ikan gurame ukuran silet sebanyak 3.000 ekor. Artinya, padat tebar ikan rata-rata 10 ekor per meter persegi.

Nilai ekonomis

Dengan waktu pembesaran satu tahun, jumlah pakan standar yang dibutuhkan untuk setiap 1.000 ekor ikan gurame, sejak tebar hingga panen, sebanyak 30 sak. Saat wawancara dilakukan, harga pakan per sak isi 30 kg Rp 278.000. Artinya, untuk 3.000 ekor gurame yang dibesarkan Arief, total jenderal biaya pakan yang dibutuhkan sebesar Rp 25.020.000.
Selain biaya pakan, ongkos produksi mencakup biaya benih. Harga benih gurame ukuran silet saat wawancara dilakukan adalah Rp 1.200 per ekor. Total biaya untuk 3.000 ekor benih yaitu Rp 3.600.000. Ongkos listrik diperkirakan sebesar 1.200.000 per satu siklus. Adapun biaya tenaga kerja tidak ada karena pekerjaan ditangani sendiri. Jadi total biaya produksi yang diperlukan sebesar Rp 28.620.000.
Lalu, berapa keuntungan yang diraup Arief dalam kurun waktu satu tahun?
Dalam setahun, bobot ikan gurame yang dipanen rata-rata 500 gram per ekor atau sekilo isi 2 ekor. Jika survival rate sebesar 80%, Arief memanen gurame sebanyak 2.400 ekor. Artinya, bobot panen total sebesar 1.200 kg atau 1,2 ton. Jika harga berat basah sebesar Rp 32.000 per kilogram, Arief mengantongi hasil panen kotor sebesar Rp 38.400.000. Dikurangi ongkos produksi sebesar Rp 28.620.000, ungtung bersih yang masuk kantongnya sebesar Rp 9.780.000. Jika bisa menekan angka kematian, untung yang diperoleh bisa lebih besar.
“Tingkat kematian tergantung musim. Jika cuaca ekstrim atau sangat panas, gurame sering mengalami luka pada kulit dan sirip. Seperti terbakar. Dari 2.000 ekor bibit yang ditebar, jumlah panen bisa hanya 200 ekor,” beber Arief.
Ditanya soal solusi mengatasinya, Arief menyarankan agar mengisi air kolam setiap sore menjelang maghrib dan menghindari pengisian air sejak pagi hingga sore. Menurutnya, mengisi air saat cuaca panas sama seperti merebus ikan. “Selain itu, ikan harus beradaptasi terlebih dulu dengan air baru. Ikan menjadi stres,” tambahnya.
Selain menjaga kesehatan ikan dan lingkungan budidaya, Arief juga berupaya menekan pengeluaran pakan dengan pemberian pakan berupa dedaunan seperti kangkung, talas, dan daun singkong. “Selain murah, daun kangkung mudah diperoleh karena banyak petani kangkung di daerah saya. Untuk kangkung, harga bandrol Rp 70.000 untuk setiap satu kwintal atau 100 kilogram,” ungkapnya.
Tak patah arang
Setiap usaha tentu memiliki risiko. Sebagaimana bisnis lainnya, di balik keuntungan, ada risiko kerugian yang perlu disadari. Begitu pula dengan usaha pembesaran gurami yang dilakukan Arief. Ia sempat menderita kerugian yang besar saat pertama kali terjun.
“Ketika itu saya masih pemula, masih awam. Permasalahannya karena bibit ikan yang jelek dan harga jual yang sangat rendah,” kenangnya. Kala itu, panen gurame Arief hanya seharga Rp 18.000 per kilogram. “Padahal harga pakannya saja sudah Rp 270.000 per sak,” tambahnya.
Kerugian ini diperparah dengan kondisi bibit yang jelek. Bibit gurame tidak berkembang dengan baik. “Bayangkan, dalam setahun pemeliharaan, berat per kilo berisi 7 ekor ikan. Ikan centet atau kerdil. Ukurannya hanya sebesar 3 jari orang dewasa,” ungkapnya.
Seiiring berjalannya waktu, ia memahami cara memilih bibit yang baik. Bibit gurame yang berpotensi kerdil ditandai dengan mata yang menonjol. Selain itu, siripnya tampak rapat. “Jika datang langsung ke pembenih, kita bisa memilih langsung benih yang kita anggap berpotensi tumbuh dengan baik. Tapi jika sibuk, terpaksa memesan via telepon, kita terpaksa pasrah dan percaya saja,” akunya.

Meskipun pernah gagal, Arief tidak patah arang. Menurutnya, rezeki sudah ada yang mengatur. Untuk menyiasati waktu pemeliharaan ikan gurame yang cukup lama, Arief menyiasati pemasukan dengan budidaya ikan koi. “Budidaya ikan koi bagus, harganya relatif tinggi dan dijual satuan. Paling tinggi, ikan bisa dijual dengan harga Rp 35.000 per ekor, tergantung grade,” terangnya. Selain itu, waktu pemeliharaan ikan koi jauh lebih singkat. Dijualnya pun bisa dalam beragam ukuran, tergantung permintaan.
Dengan budidaya dua jenis ikan ini, Arief bisa terus mengisi pundi-pundi keluarga. Sejauh ini, penjualan kedua komiditas budidaya ikan air tawar itu mudah diserap pasar. Bakul ikan datang langsung ke tempatnya.
“Sebagai usaha untuk mengisi waktu tua, usaha budidaya pembesaran gurame cukup menjanjikan. Hanya saja memang dibutuhkan modal besar dan kesabaran karena masa pemeliharaannya relatif lama, yaitu satu tahun, tergantung ukuran pada awal penebaran,” pungkasnya. 

Semoga Bermnafaat!


Sumber: infoakuakultur.com

  • 0 Comments
  • Share:
Newer Post Older Post

You Might Also Like

0 komentar

Newer
Stories
Older
Stories

VIDEO PROFIL ANTOK FARM

BUKU TAMU

SPONSOR

SPONSOR
SyifaBrand, Inc. @ 2018. Powered by Blogger.

Created with by BeautyTemplates.

Back to top